KUNCI PEMBANGKITAN
SPIRITUAL
Sumber: KNOW YOURSELF Karya:
AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Apa kunci
terpenting untuk memahami yang Satu yang bernama ‘Allah’ dan sistem universal
yang didefinisikan oleh agama Islam? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ‘Siapa
dan Apa saya ini?
Selalu ada penyimpangan mengenai masalah ini, namun kenapa?
Mengapa kita
selalu mengalami kebuntuan untuk mendapatkan jawaban dan gagal melihat gambar
keseluruhan di balik semua perkara ini?
Mengapa kita
tidak dapat menilai Al-Qur’an dan merenungkan segalanya dengan jelas secara
benar?
Sungguh, ini
merupakan masalah-masalah yang mencerminkan kesulitan yang dihadapi mereka yang
memiliki pikiran yang selalu bekerja. Tentu saja, bagi mereka yang menghabiskan
hidupnya tanpa bertanya-tanya dan hanya meniru apa yang mereka lihat dari orang
lain, tidak ada masalah semacam itu.
Untuk
memahami sepenuhnya pernyataan yang diserukan Nabi Muhammad SAW dan menilai realitas
yang disampaikan Al-Qur’an, kita harus mengetahui dua hal berikut secara jelas:
1. Dimensi universal dari sistem yang
sedang dibicarakan.
2. Dimensi spiritual dari orang yang
tinggal dalam sistem yang sedang dibicarakan.
Dalam
Sufisme, ada dua jenis perjalanan spiritual, masing-masing dibimbing oleh
perasaan dan perenungan yang dalam, yang keduanya berkenaan dengan tugas
merasakan realitas-realitas ini.
1. Perjalanan Fisik (Sayri Afaqi – Kemajuan manusia di luar
dirinya), yang merupakan perenungan dan realisasi kebenaran-kebenaran universal
di dunia luar.
2. Perjalanan Spiritual (Sayri Anfusi – Kemajuan manusia di dalam
dirinya),yang merupakan perenungan dan realisasi kebenaran-kebenaran batin yang
dialami di dunia internal.
Perjalanan
pertama berkaitan dengan proses pengenalan sistem universal dan keteraturan
yang diciptakan yang Satu yang bernama ‘Allah’ di dalam IlmuNya (ilm). Ini
adalah perjalanan fisik yang berkenaan dengan pengamatan dunia luar. Perjalanan
ke dua dikenal sebagai perjalanan spiritual dan berkenaan dengan
latihan-latihan yang diperlukan seseorang untuk memahami realitas jati dirinya
(Haqiqat), yakni diri sejatinya (Nafs).
Di Banyak ayat, Al-Qur’an menekankan bahwa ada kebenaran hakiki yang berhubungan dengan perenungan mengenai dunia lahir dan dunia batin, yang harus direalisasikan.
Jika pencari
kebenaran membatasi dirinya dengan memandang makna ayat-ayat ini hanya dari
satu aspek saja, pikirannya akan mengalami penyimpangan karena tercerabut untuk
memahami semua realitas lainnya.
Tapi mengapa hal ini terjadi?
Ini adalah
akibat salah pemahaman sedemikian rupa sehingga al-Qur’an dianggap seolah
sebagai ‘kitab berisi perintah-perintah Tuhan dari atas sana’ bukannya sebagai
kitab yang menjelaskan Sistem Universal (Sunnat
Allah) dan Penciptanya! Para guru Sufi yang telah mencapai realisasi ini telah
mencoba menjelaskan kebenaran di balik masalah ini, karena keberadaannya sama
sekali berbeda dari yang mereka kira sebelumnya.
Kami telah
mencoba menjelaskan materi bahasan mengenai sifat Keberadaan Unik yang bernama
‘Allah’ dalam buku kami yang berjudul ‘Allah seperti yang diungkapkan Muhammad’
dengan penjelasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jika kita dapat
memahami realitas-realitas yang dibahas dalam buku tersebut dengan baik dan
menilai penjelasan-penjelasan di dalamnya secara lengkap dari sudut pandang
realita JAGAT HOLOGRAFIK, kita akan dapat menyadari bagai mana yang Maha Esa
yang bernama ‘Allah’ termanifestasikan dalam diri manusia.
Muhammad
Mustofa SAW telah berusaha menjelaskan dan membuat kita menyadari kebenaran
bahwa konsep ketuhanan dan tuhan berkepala tidak ada sama sekali. Beliau
menunjukkan lebih lanjut bahwa hanya ada Keberadaan Dzat Yang Esa, Realitas
Absolut yang Esa, yang dinamakan ‘Allah’. Nyatanya, inilah yang disampaikan
Al-Qur’an kepada kita! Oleh karena itu, meskipun banyak kritikan pedas dari
mereka yang tidak bisa ‘MEMBCACA’ tulisan kami, telah kami tunjukkan bahwa
‘Nama Dia adalah Allah’, dan kami pun tetap mengkomunikasikan kepada setiap
orang bahwa ‘Allah’ hanyalah sebuah nama, kata benda yang menunjuk kepada
realitas unik. Untuk alasan inilah, membuat gambaran terhadap nama yang unik
ini samasekali mesti dihindari. Namun, realitas yang ditunjuk oleh nama ini
perlu difahami.
Ya.
Jagat ada
karena keberadaan Dzat yang Esa yang Hidup Dengan Sendirinya dan Berdiri
Sendiri (Qayyum).
Namun
begitu, jagat bukanlah tuhan!
Manusia
hidup karena Dzat yang Esa, yang Hidup Dengan Sendirinya secara kekal.
Namun
demikian, manusia bukanlah tuhan!
Seluruh alam
diliputi oleh kualitas dari Nama-nama dan Sifat-sifat dari Keberadaan yang Maha
Tinggi yang bernama ‘Allah’ dan ini berlanjut hingga kekekalan.
Alam
terliputi oleh keberadaan Allah yang hidup, karena Allah lah yang Hidup Kekal (Al-Hayy).
Manusia juga hidup karena Allah yang Maha
Kuasa adalah yang Hidup Kekal.
Pada
intinya, segala sesuatu di jagat bisa sadar karena Allah adalah yang Maha
Mengetahui (‘Alim)
Manusia juga
berkesadaran, karena Allah yang Mengetahui!
Ketika sifat-sifat
ilmu mewujud, kesadaran terealisasi.
Di balik
setiap nama dan citra di jagat raya, hanya ada Satu Keberadaan yang Maha
Tinggi, Pencipta dan Pemelihara yang membuat segala sesuatu mencapai
kesempurnaan. Dia lah Pemelihara seluruh jagat raya (Rabbul ‘Alamiin), Satu-satunya Realitas Absolut yang mewujud di
mana-mana secara terbuka dengan KeunikanNya yang Agung (Wahiddiyyah) yang berasal dari kelengkapan KetuhananNya
(Uluhiyyat). Dia Maha Pemelihara dan Maha Penyayang terhadap seluruh alam yang
terur menerus menciptakan dan membentuknya baru dengan meneruskan PemeliharaanNya
Yang Agung secara universal di setiap tempat di setiap waktu. Maka, melalui
Sifat-sifat Ketuhanan dari KasihNya (Rahmaniyyat), Dia lah yang Esa yang
menjadikan apapun yang dikehendakinya ke dalam keberadaan.
Setiap tahap spiritual yang tersingkap di
dalam alam juga tertanam di dalam diri setiap manusia serupa dengan
tersingkapnya dalam tingkatan mikro. Inilah alasannya mengapa manusia hanya
bisa memahami alam sebatas mana dia mengenal dirinya sendiri.
Ketika
menciptakan esensi manusia, Kebenaran Tuhan (Haqiqat ul-uluhiyyat) telah bertindak sebagai cermin murni yang
merefleksikan Manifestasi Agung DiriNya. Melalui kualitas KetuhananNya yang
Unik, Dia telah membuat esensi manusia bersifat Tunggal (Wahid). Kemudian Dia meneruskan KemurahanNya yang Agung kepada
manusia dengan menciptakan dan memberikan sarana esensiil di setiap saat
melalui Sifat KetuhananNya, Yang Maha Pemurah kepada semua mahluk, maka Dia pun
menjadi Pencipta (Haliq) dari semua
tindakan manusia dengan KepemeliharaanNya (Rububiyyat).
Lingkup
Tahta Tuhan (Arsy), lingkup Kursyi Tuhan, tujuh langit dan tujuh lapis bumi semuanya
ada di alam!
Lingkup
Tahta Tuhan (Arsy), lingkup Kursyi Tuhan, tujuh langit dan tujuh lapis bumi
semuanya tersembunyi di dalam diri manusia!
Ada quantum
samudra malaikat di mana-mana di alam ini!
Manusia ada
dengan semua malaikat-malaikat ini!
Orang yang
dikaruniai kesadaran total terhadap Allah (Marifatullah), yakni tingkat
ke-empat atau tingkat kesadaran setelai mencapai Kebenaran Tuhan dapat
‘MEMBACA’ semua metafora ini dengan sangat baik dan memahami apa yang
ditunjukan di dalam sistem ini. Mereka pun mengetahui arti istilah ‘Arasy’, apa yang dimaksud ‘Qursiy’ dan jenis kekuatan apa yang
dimiliki malaikat-malaikat di dalam sistem ini.
Perkataan
‘Apapun yang engkau cari, dapat engkau temukan di dalam dirimu sendiri, maka
jangan melihat keluar’ adalah berdasarkan realitas ini. Sungguh, jika Anda
dapat mengenal diri Anda sebagai mikrokosmos, maka Anda pun dapat mengenal
keseluruhan alam sebagai makrokosmos.
Dan dengan
cara ini, Anda akan mampu melihat siapa dan apa itu Pemelihara (Rabb) alam ini.
Perjalanan spiritual dapat dijelaskan sebagai ‘Mengenal diri sendiri’, sebuah topik yang telah kami bahas dalam artikel kami sebelumnya yang berjudul ‘Siapa Itu Diri (Nafs)?’
Para
pengelana pikiran yang yang sedang melakukan perjalanan spiritual ini dan
sedang mencoba memahami fakta ini pada akhirnya akan mulai mengira bahwa
dirinya adalah satu-satunya Realitas (Haqq).
Lebih dari itu, mereka mencebur ke pusaran kesatuan sehingga pada puncaknya
mereka akan mengatakan ‘Aku lah Tuhan, aku melakukan apa yang ku inginkan dan
segala sesuatu adalah boleh (Mubah)
bagiku’. Tahap ini juga dikenal sebagai tahap Diri yang Terilhami, dimana
kesadaran menerima perintah-perintah langsung melalui ilham mengenai kebenaran
dirinya atau menjadi terikat kepada pusaran ‘Diri yang Terilhami’. Rincian dari
bahasan ini bisa anda dapatkan pada pembicaraan kami mengenai topik tahap
kesadaran, yang berkaitan dengan diri terilhami. Namun jika sang musafir
spiritual tidak mencapai realisasi ini dan naik ke tahap ketenangan sempurna (Mutmainnah), maka kesadaran Diri yang
Memerintah (Ammara) mengendalikan
dirinya. Tak lama kemudian, dia mulai merasakan dirinya seperti Firaun yang
dikaruniai pengetahuan Mulhima (tahap
Diri Terilhami), dan karenanya dia akan beranggapan bahwa segala sesuatu adalah
palsu dan memandang dirinya sebagai mahluk sempurna, tanpa cacat sedikit pun.
Sebagai akibatnya, dia akan meninggalkan dunia ini dengan pikiran spiritualnya!
‘Pada jalan
spiritual ini, banyak yang telah dipenggal kepalanya, namun tak seorang pun
pernah berani untuk bertanya’ merupakan ucapan metaforik yang merujuk pada
begitu besar pengorbanan yang harus dialami pada jalan ini!
Selain semua
kebenaran yang melengkapi realitas dirinya, manusia bertanggungjawab atas
perbuatannya. Dengan kata lain, setiap waktu dia harus menanggung segala akibat
perbuatannya di masa lampau. Harus ditekankan pula bahwa apapun pikiran atau
tindakan yang dilakukannya, manusia akan menanggung dan merasakan akibatnya.
Ini adalah
cara lain untuk mengatakan bahwa keberadaan anda sekarang merupakan akibat dari
apa yang Anda lakukan kemarin!
Jika semua
ini dapat difahami dengan baik, mari sekarang kita bicarakan tentang isu yang
paling penting, yang merupakan kunci terpenting untuk memahami bahasan pokok
ini.
Mari kita
coba fahami dasar dari bahasan ini dengan memberikan perhatian khusus pada
kenyataan bahwa Sahabat Abu Bakar telah menunjukkan dan menekankannya dengan
sempurna. Beliau mengatakan, ‘Untuk memahami esensi ‘Allah’ adalah dengan
mengakui bahwa esensi Dia tidak dapat difahami.’
Kita harus
memikirkannya dengan hati-hati setiap fenomena yang dikaitkan dengan nama
‘Allah’ dalam Al-Qur’an dari sudut pandang aspek universalnya, sambil menyadari
sepenuhnya bahwa semuanya ada di dalam asal-muasal alam. Kebenaran-kebenaran
universal ini juga ada dalam esensi dan asal-muasal manusia.
Seperti telah saya tunjukkan sebelumnya, Ayat Kursyi, Surat An-Nas dan al-Falaq dan ayat-ayat lain yang diawali dengan definisi ‘Dia lah Allah yang tak Ada Tuhan disisinya’ (Huwallahulladzi) dalam Al-Qur’an menunjuk kepada realitas yang disingkap dalam semua dimensi universal, juga sebagai kualitas-kualitas yang berkaitan dengan stasion-stasion spiritual (Martabat) yang dimanifestasikan dengan nama manusia. Tidak diragukan bahwa para pemilik kebenaran ini akan memahami sifat dan pentingnya dengan apa yang disebut sebagai ‘Rabb’, dimana adanya ‘Rabb’, apa arti berlindung kepada ‘Malik’ (Penguasa Absolut) dan bagaimana perlindungan diperoleh dari Allah seperti ditunjukkan dengan frase ‘ilahin nas’ (Tuhannya Manusia) di dalam ayat ini.
Dengan kata
lain, Nama-nama Agung yang berkenaan dengan Sifat-sifat Allah tidak hanya
berlaku dalam setiap bidang keberadaan, namun merupakan
karakteristik-larakteristik yang juga dikandung dalam stasiun Kepemeliharaan
(Rubbubiyyah) yang bersifat laten pada setiap manusia.
Inilah
alasannya mengapa kita mesti mengingat fakta ini pada saat kita memulai bacaan
Qur’an untuk tujuan memahami maknanya, kita mesti sepenuhnya sadar bahwa semua
Sifat-sifat Agung milik Allah yang Maha Kuasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an
menyusun realita kita sendiri. Lebih dari itu, peristiwa-peristiwa yang akan
kita hadapi di masa depan juga akan muncul dengan konteks sifat-sifat ini.
Akhirnya,
dapat kami rangkum pendapat kami sebagai berikut:
Untuk dapat
memahami Al-Qur’an, proritas pertama kita adalah meyakinkan diri kita bahwa
Al-Qur’an bukanlah sekedar sebuah kitab yang menyampaikan perintah-perintah
Tuhan dari jarak jauh. Segera setelah menyadari realitas ini, tahap selanjutnya
adalah mengambil langkah yang teguh pada jalan ke depan dengan memahaminya
melalui nama agung ‘Allah’, Kitab agung ini jelas-jelas memberikan informasi
yang luas mengenai Aturan-aturan Agung, asal mula dari jagat raya dan manusia.
Kebenaran
hakiki yang harus kita sadari dan perhatikan adalah bahwa Yang Satu yang Maha
Tinggi yang bernama ‘Allah’ adalah Dia yang menciptakan jagat yang tak
terhitung dalam multi-jagat juga yang menciptakan manusia melalui Sifat-sifat
yang berasal dari Nama-nama AgungNya dan dari dalam Pengetahuan AgungNya.
Sama sekali
mustahil untuk beranggapan bahwa manusia
atau alam tidak pernah dapat dipikirkan mempunyai kualitas transenden.
Faktanya,
tak seorang pun pernah mengaku secara sadar bahwa mereka adalah Allah!
Komentar
Posting Komentar
Silakan tuliskan komentar Anda