Langsung ke konten utama

Mengenal Diri - 3



PENGERTIAN NABI DAN RASULULLAH

Sumber:           KNOW YOURSELF  Karya: AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa


Apakah Anda memiliki keinginan besar untuk memahami Al-Qur’an?

Juka kita sungguh-sungguh ingin memahami dan mengkaji Al-Qur’an dengan cara yang lebih tepat, hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan meyakinkan bahwa kita menggunakan kata-kata yang orisinil dalam Al-Qur’an tanpa meninggalkan penggunaan teks asalnya. Dengan demikian, kita dapat memahami setiap katanya sebagaimana adanya.

Ketika Anda membaca tafsir atau terjemah (Ma’al) Al-Qur’an, pertama-tama harap perhatikan secara khusus kepada butir berikut ini. Jika dalam sebuah terjemah Al-Qur’an, digunakan kata ‘TUHAN’ bukannya kata ‘Allah’ dan digunakan kata ‘Utusan’ padahal dalam teks asalnya disebutkan kata ‘Rasul’ dan ‘Nabi’, maka harap berhati-hati bahwa terjemahan semacam itu tidak akan mampu menyajikan Kebenaran (Hakikat) dan rahasia-rahasia tersembunyi (Sirr) yang sedang disebutkan dalam Al-Qur’an!
Terjemahan yang tidak memiliki kualitas demikian tidak akan pernah membuat Anda mengetahui pesan sebenarnya yang diserukan Hazrat Muhammad Mustafa SAW, karena akan benar-benar mustahil bagi Anda untuk memahami hakikat inti dari realitas ini. Orang yang menterjemahkan teks ini sungguh tidak mengetahui tentang kitab ini karena tidak memahaminya dengan sepenuhnya, dan karenanya terjemahannya tidak akan memadai sama sekali!

Kami telah berusaha menjelaskan masalah ini secara lebih luas dalam beragam tulisan kami sedemikian rupa bahwa kata ‘Tuhan’ tak memiliki hubungan arti sama sekali dengan nama ‘Allah’ karena kata ‘Tuhan’ hanya istilah agama mengenai ‘Ketuhanan’, seperti misalnya menyembah kepada ‘Tuhan-Langit’.
Dalam artikel ini, saya akan mengajak Anda untuk memperhatikan sebuah hal penting, yakni penggunaan yang tidak tepat dari kata ‘UTUSAN’, yang muncul dalam terjemahan Al-Qur’an.
Kita harus benar-benar yakin bahwa setiap dan masing-masing kata yang disebutkan dalam Al-Qur’an telah dipilih secara khusus karena mereka mewakili makna yang lebih dalam dan menyeluruh dari sisi penggunaannya.

Yang Satu yang bernama ‘Allah’ adalah sumber pokok dari semua keberadaan yang membentuk asal-usul dari setiap entitas tunggal yang dapat atau tidak dapat kita dilihat melalui Nama-namaNya Yang Agung (Asma) dan Sifat, dan karenanya sama sekali mustahil untuk menetapkan batasan kepada Allah karena Dia tetap Tersendiri dalam DzatNya!

Mengingat pernyataan di atas, ini berarti bahwa siapa pun yang telah mencapai ‘Allah’, tentunya bukan secara ekstrinsik namun secara intrinsik melalui hakikat, inti, dan kebenaran dirinya, pasti akan mengetahui dan karenanya memahami bahwa keberadaan nama dan citraNya hanyalah ilusi karena keberadaanNya terdiri dari ‘ketiadaan’. Namun, Yang Satu yang diberi nama ‘Allah’ adalah semua yang ada.
Untuk alasan ini, kita perlu memahami bahwa Yang Satu yang bernama ‘Allah’ adalah satu-satunya Realitas yang nenunjuk Kebenaran ‘Nabi’, ‘Rasul’ dan ‘Wali’, yang mewujud melalui semua Nama-nama dan Sifat-sifat AgungNya dalam setiap dimensi yang dapat difahami, dan bahwa Dia adalah Maha Kaya dan Maha Berkecukupan (Al-Ghani). KeberadaanNya sama sekali bebas dari segala pemahaman.

Untuk alasan ini, mereka yang kualitasnya dirujuk dengan nama Nabi, Rasul dan Wali semuanya mengekspresikan dirinya hanya dengan menyuarakan kebenaran dari stasion spiritual yang telah mereka capai secara dimensional dalam keberadaan dirinya. Maksudnya, mereka bukanlah perantara seperti tukang pos bagi mahluk lain yang jauh, melainkan menyuarakan apa yang yang ada dalam kebenaran mereka!
Baik ‘Nabi’ maupun ‘Rasul’ telah mencapai status spiritual mereka melalui penyempurnaan spiritual dari Walayat, dan ini tidak lebih dari pembukaan Nama Tuhan ‘Al-Wali’ (Pengatur Penciptaan), yang merupakan Nama Agung milik Yang Satu yang dirujuk dengan nama ‘Allah’.

Mereka yang dimuliakan ini, yang menghabiskan masa hidupnya dengan menjalankan institusi Kenabian (Nubuwat) dan Kerasulan (Risalat) mendapatkan kesempurnaan spiritual dan kebijaksanaannya (Kamalat) lewat mana kualitas Nama Tuhan ‘Wali’ mewujud, dan mereka melanjutkan kehidupan mereka di akhirat setelah kematian dengan mengalami keadaan spiritual Risalat, yang terealisasi dalam stasion Walayat.
Walaupun Yang Satu yang dinyatakan dengan nama ‘Allah’ tidak memiliki nama yang dikenal sebagai kata ‘Nabi’, nama agung ‘Al-Wali’ bersifat Kekal (Baki)!

Nubuwwat’ adalah kualitas yang hanya diperlukan di kehidupan dunia kini.

Sedangkan ‘Risalat’ merupakan kualitas yang berlaku baik di kehidupan dunia maupun kehidupan setelah kematian.

Setiap ‘Nabi’, setiap ‘Rasul’ dan setiap ‘Wali’ berasal dari Hakikat atau Kebenaran (Haqiqat) ‘Walayat’.
Dilihat dari realitas luarnya (Dzahir), setiap ‘Nabi’ adalah ‘Nabi’, dan dari sudut realitas dalamnya (Bathin), setiap ‘Nabi’ adalah ‘Wali’.

Dilihat dari realitas luarnya, setiap ‘Rasul’ di masa lampau dapat dianggap sebagai ‘Nabi’, atau mungkin saja bukan ‘Nabi’ sama sekali. Namun dalam realitasnya, dari sudut pandang realitas luar, mereka adalah ‘Wali’.
Setiap ‘Wali’ menerima keberadaan dan kesempurnaan spiritualnya dari ‘Walayat’nya.

Melaksanakan misi agung ‘nubuwwat’ merupakan tugas yang terhubung dengan kehidupan dunia ini dan berakhir dengan transisi ‘Nabi’ tersebut dari kehidupan dunia ini ke kehidupan akhirat.

Dalam kenyataannya, ‘Nubuwwat’ telah berakhir dengan Muhammad Mustafa, yang merupakan Nabi Terakhir (Khataman-Nabi) dan karenanya tidak akan ada lagi Nabi lain hingga Hari Kiamat.

Beberapa ‘Anbiya’ (bentuk jamak dari kata ‘Nabi’) pada saat yang bersamaan sebagai ‘Rasul’. Namun, tugas seorang ‘Rasul’ yang dirujuk oleh misi agung ‘Risalat’ sedemikian mulia sehingga akan tetap beroperasi hingga Hari Kiamat.

Pada kenyataannya, menjadi seorang ‘Nabi’ hanyalah tugas sementara, sedangkan ‘Risalat’, yakni kualitas sebagai Rasul, adalah klasik dan tidak berakhir hanya karena beralih dari dunia. Ini karena tidak ada kata akhir untuk mengetahui kebenaran diri. Bagi Rasul, karenanya, tugas tersebut terus berlanjut hingga kekekalan.

Untuk alasan ini, dengan mengucapkan Kesaksian Keimanan (Kalima Syahadat), kita menegaskan keyakinan kita bahwa Hazrat Muhammad SAW adalah ‘Rasul’, dan ini berlaku hingga misi eternalnya. Hanya dengan menyatakan keimanan kita bahwa kita menerima dan mengukuhkan sepenuhnya agama Islam. Oleh karena itu, setelah mengucapkan kata ‘AbduHu’, kita mengucapkan kata ‘Rasuluhu’, tapi kita tak pernah mengatakan ‘NabiyyuHu’.

Risalat’ dan ‘Nubuwwat’ adalah tingkat tertinggi yang ada dalam ‘Walayat’. Ini serupa dengan kelas ‘Jenderal’ dalam kemiliteran.

Nubuwwat’ adalah tugas yang berhubungan dengan memberitahu anggota masyarakatnya mengenai syarat-syarat yang memungkinkan mereka mencapai kebahagiaan kekal di kehidupan akhirat, mengajak mereka untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip itu.

Sementara ‘Risalat’ bertujuan untuk memberitahu anggota masyarakatnya mengenai realitas mereka semdiri dan memberikan bimbingan pada jalan ini dengan mengkomunikasikan kepada mereka praktek-praktek penting yang harus dilakukan sehingga mereka dapat memasukkan prinsip-prinsip ini ke dalam kehidupan mereka.

Ulul azmi’ merupakan sebutan yang diberikan kepada mereka yang menjalankan kedua tugas ‘Risalat’ dan ‘Nubuwwat’ karena mereka memiliki ketetapan hati yang teguh.

Istilah ‘Walayat’ adalah mengetahui dan mengalami Kebenaran diri sendiri (Haqiqat).

Al-Qur’an menggunakan kata ‘Nabi’ jika merujuk kepada fungsi yang berhubungan dengan norma-norma sosial dan aturan-aturan dalam masyarakat, dan ini merupakan fungsi-fungsi dalam konteks ‘Nubuwwat’.
Namun kata ‘Rasul’ telah digunakan dalam konteks yang berbeda total di dalam Al-Qur’an, sedemikian rupa sehingga ketika fungsi-fungsi yang berhubungan dengan bentuk-bentuk dalam suatu masyarakat yang dirujuk, yang berkenaan dengan fungsi-fungsi seperti memberitahu orang-orang mengenai kebenaran asal-usul mereka juga mengenai relitas Allah dan memperingatkan mereka tentang konsep tertentu yang salah difahami di dalam masyarakat. Ini semua ada dalam konteks ‘Risalat’.

Ketika kata ‘Wali’ disebutkan di dalam al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menarik perhatian ke arah kesempurnaan spiritual yang pada akhirnya harus dicapai individu berkenaan dengan cara menjalani kehidupannya.

Mereka yang telah mencapai tingkat kesempurnaan spiritual memiliki realitas ‘Walayat’ di dalam dirinya, yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai status yang dinamai Nubuwwat atau Risalat, karena fungsi-fungsi mereka ke arah dunia luar. Dengan cara ini, mereka telah diperlakukan sebagai kelas yang berbeda, karena mereka terpisah dari ‘Awliya’ (jamak dari kata Wali) yang telah mengalami kebijaksanaan penuh kebahagiaan menuju pencapaian kesempurnaan batin mereka.

Jika kita bisa membaca ayat-ayat Al-Qur’an di bawah cahaya definisi-definisi ini, kita akan dapat melihat ke dimensi-dimensi yang lebih dalam mengenai realitas.

Sementara itu, melihat dari sudut pandang lain, orang-orang suci yang telah menyerukan Hukum Islam disebut ‘Nabi’, sementara mereka yang telah mengajak orang-orang tanpa memperkenalkan Hukum Islam sehingga mereka dapat mengambil tindakan yang diperlukan dan merealisasikan realitas mereka sendiri disebut ‘Rasul’. Di sisi lain, mereka yang tidak menerima pesan agung ini untuk menjalankan tugas demikian disebut ‘Wali’.

Walayat’ tidak dapat dianggap sebagai otoritas yang dijalankan oleh sesuatu kekuasaan yang berdaulat karena tidak diwariskan dari ayah kepada anak. Namun sebagai hasil pengalaman pribadi mengenai Keberadaan absolut Tunggal yang bernama ‘Allah’ dan realisasi yang dihasilkan kebangkitan batin di dalam kebenaran diri seseorang.

Kebenaran yang mengarah kepada kesempurnaan spiritual dari kewalian mewujud pada seorang ‘Nabi’ atau ‘Rasul’ melalui aturan-aturan turunnya wahyu (Tanazzulat). Hal ini juga dirujuk sebagai menerima Wahyu Tuhan (Wahiy). Jika kesempurnaan spiritual yang mengarah kepada kewalian mewujud dalam seorang ‘Wali’ melalui aturan-aturan yang berkenaan dengan Peningkatan Spiritual (Uruj), ini kemudian disebut sebagai inspirasi (Ilham).

Untuk semua alasan ini, menggunakan istilah “utusan’ dalam suatu teks bukan hanya akan menyembunyikan semua realitas yang disebutkan di atas, namun juga akan menghalangi orang untuk memahami banyak rahasia lain, meskipun pada akhirnya akan tercapai.

Melaksanakan praktek ritual (ibadat) tak akan dapat difahami dengan menerjemahkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an tak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun!

Al-Qur’an diturunkan agar membuat orang menjadi faham, dan ia merupakan kitab yang harus dipraktekan agar dampaknya dapat dirasakan. Setiap orang dapat menerapkan label kepadanya dengan menjelaskan artinya sejauh batas pemahamannya, dengan kata-katanya sendiri sambil menambahkan ‘Sejauh pemahaman saya dari Al-Qur’an’. Siapa pun yang menjelaskannya berarti telah memberikan nama tertentu kepadanya.
Walaupun ‘Tuhan’ mungkin ‘Besar’, ‘Allah’ adalah yang maha besar dari semuanya (Akbar)!

Melalui penemuan realitas inilah kita (bisa) berhasil mencapai kebebasan batin kita. Namun demikian, hanya Allah yang tahu kebenaran dari masalah ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk Bumi Dalam Qur'an

Bentuk Bumi Bulat (Arti Kata KAWARA dan DAHAHA) Dahulu kala, orang percaya bahwa bumi datar. Berabad-abad, manusia takut untuk bepergian terlalu jauh, jika melanggar maka akan terjatuh di pinggiran bumi. Sir Francis Drake adalah orang pertama yang membuktikan bahwa bumi bulat setelah berlayar mengitarinya di tahun 1597. Perhatikan ayat Quran tentang perubahan siang dan malam. "Tidakkah engkau melihat bahwa Allah memasukkan malam kedalam siang dan memasukkan siang kepada malam?"[Al-Qur'an 31:29] Kata 'memasukkan' disini mengandung pengertian bahwa malam secara perlahan berubah kedalam siang, demikian pula sebaliknya.Fenomena ini hanya bisa terjadi jika bumi berbentuk bulat. Jika bumi datar, maka perubahan antara siang dan malam akan seketika, tidak perlahan-lahan.      Ayat berikut juga menyinggung bahwa bentuk bumi bulat. "Dia ciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia menggulungkan malam pada siang, dan menggulungkan siang atas malam ."[Al-Qur'...

Gunung Sebagai Pasak

Ayat Al-Quran Tentang Gunung: Sumber: www.islam-guide.com Alih Bahasa: T.J. Sagwiangsa Sebuah buku yang berjudul Earth  merupakan textbook rujukan mendasar di banyak universitas di seluruh dunia.  Salah seorang pengarangnya adalah Professor Emeritus Frank Press.  Dia merupakan Penasehat Sains bagi Presiden Amerika Serikat terdahulu Jimmy Carter, dan menjabat selama 12 tahun sebagai Direktur di National Academy of Sciences, Washington, DC. Bukunya menyatakan bahwa gunung-gunung memiliki akar di bawahnya. 1   Akar-akar ini tertancap dalam di dalam tanah, karenanya, gunung-gunung memliki bentuk seperti sebuah pasak  (lihat Gambar 7, 8, dan 9).   Gambar 7:  Gunung-gunung memiliki akar yang dalam di bawah permukaan tanah. ( Earth , Press dan Siever, hal. 413.) Gambar 8:  Penampang skematik.  Gunung-gunung, seperti halnya pasak, memiliki akar yang...

Siapa Pengarang Perjanjian Baru?

Kitab Perjanjian Baru Alih bahasa dari: The New Testament Oleh: Dr. Lawrence Brown, M.D. www.TrueToJesus.com Keduanya membaca Al Kitab siang dan malam, Yang kaubaca hitam sedangkan bagiku putih -          Mark Twain, Letters from Earth, Vol. II Tentu saja, sikap sentimen Blake di atas bukan sesuatu yang baru. Kitab Perjanjian Baru mengandung banyak ketidakkonsistenan yang menelurkan beragam interpretasi, keyakinan, agama yang memusingkan, yang kesemuanya dinyatakan berlandaskan Al Kitab. Dan kita pun menemukan satu pengarang yang mengusulkan hasil pengamatan yang menghibur: Anda bisa dan tidak bisa, Anda harus dan tidak harus, Anda akan dan tidak akan, Dan Anda akan dikutuk jika Anda melakukannya, Dan Anda akan dikutuk jika Anda tidak melakukannya.[1] Mengapa banyak ragam sudut-pandang? Pertama, kelompok-kelompok teologi yang berbeda berselisih pendapat mengenai kitab yang mana yang harus dimasukkan kedalam Al-...