PENGERTIAN NABI DAN
RASULULLAH
Sumber: KNOW YOURSELF Karya:
AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Apakah Anda
memiliki keinginan besar untuk memahami Al-Qur’an?
Juka kita
sungguh-sungguh ingin memahami dan mengkaji Al-Qur’an dengan cara yang lebih
tepat, hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan meyakinkan bahwa kita
menggunakan kata-kata yang orisinil dalam Al-Qur’an tanpa meninggalkan
penggunaan teks asalnya. Dengan demikian, kita dapat memahami setiap katanya
sebagaimana adanya.
Ketika Anda
membaca tafsir atau terjemah (Ma’al)
Al-Qur’an, pertama-tama harap perhatikan secara khusus kepada butir berikut
ini. Jika dalam sebuah terjemah Al-Qur’an, digunakan kata ‘TUHAN’ bukannya kata
‘Allah’ dan digunakan kata ‘Utusan’ padahal dalam teks asalnya disebutkan kata
‘Rasul’ dan ‘Nabi’, maka harap berhati-hati bahwa terjemahan semacam itu tidak
akan mampu menyajikan Kebenaran (Hakikat)
dan rahasia-rahasia tersembunyi (Sirr)
yang sedang disebutkan dalam Al-Qur’an!
Terjemahan
yang tidak memiliki kualitas demikian tidak akan pernah membuat Anda mengetahui
pesan sebenarnya yang diserukan Hazrat Muhammad Mustafa SAW, karena akan
benar-benar mustahil bagi Anda untuk memahami hakikat inti dari realitas ini.
Orang yang menterjemahkan teks ini sungguh tidak mengetahui tentang kitab ini
karena tidak memahaminya dengan sepenuhnya, dan karenanya terjemahannya tidak
akan memadai sama sekali!
Kami telah
berusaha menjelaskan masalah ini secara lebih luas dalam beragam tulisan kami
sedemikian rupa bahwa kata ‘Tuhan’ tak memiliki hubungan arti sama sekali dengan
nama ‘Allah’ karena kata ‘Tuhan’ hanya istilah agama mengenai ‘Ketuhanan’,
seperti misalnya menyembah kepada ‘Tuhan-Langit’.
Dalam
artikel ini, saya akan mengajak Anda untuk memperhatikan sebuah hal penting,
yakni penggunaan yang tidak tepat dari kata ‘UTUSAN’, yang muncul dalam
terjemahan Al-Qur’an.
Kita harus
benar-benar yakin bahwa setiap dan masing-masing kata yang disebutkan dalam
Al-Qur’an telah dipilih secara khusus karena mereka mewakili makna yang lebih
dalam dan menyeluruh dari sisi penggunaannya.
Yang Satu
yang bernama ‘Allah’ adalah sumber pokok dari semua keberadaan yang membentuk
asal-usul dari setiap entitas tunggal yang dapat atau tidak dapat kita dilihat
melalui Nama-namaNya Yang Agung (Asma)
dan Sifat, dan karenanya sama sekali mustahil untuk menetapkan batasan kepada
Allah karena Dia tetap Tersendiri dalam DzatNya!
Mengingat
pernyataan di atas, ini berarti bahwa siapa pun yang telah mencapai ‘Allah’,
tentunya bukan secara ekstrinsik namun secara intrinsik melalui hakikat, inti,
dan kebenaran dirinya, pasti akan mengetahui dan karenanya memahami bahwa
keberadaan nama dan citraNya hanyalah ilusi karena keberadaanNya terdiri dari
‘ketiadaan’. Namun, Yang Satu yang diberi nama ‘Allah’ adalah semua yang ada.
Untuk alasan
ini, kita perlu memahami bahwa Yang Satu yang bernama ‘Allah’ adalah
satu-satunya Realitas yang nenunjuk Kebenaran ‘Nabi’, ‘Rasul’ dan ‘Wali’, yang
mewujud melalui semua Nama-nama dan Sifat-sifat AgungNya dalam setiap dimensi
yang dapat difahami, dan bahwa Dia adalah Maha Kaya dan Maha Berkecukupan (Al-Ghani). KeberadaanNya sama sekali
bebas dari segala pemahaman.
Untuk alasan
ini, mereka yang kualitasnya dirujuk dengan nama Nabi, Rasul dan Wali semuanya
mengekspresikan dirinya hanya dengan menyuarakan kebenaran dari stasion
spiritual yang telah mereka capai secara dimensional dalam keberadaan dirinya.
Maksudnya, mereka bukanlah perantara seperti tukang pos bagi mahluk lain yang
jauh, melainkan menyuarakan apa yang yang ada dalam kebenaran mereka!
Baik ‘Nabi’
maupun ‘Rasul’ telah mencapai status spiritual mereka melalui penyempurnaan
spiritual dari Walayat, dan ini tidak lebih dari pembukaan Nama Tuhan ‘Al-Wali’ (Pengatur Penciptaan), yang
merupakan Nama Agung milik Yang Satu yang dirujuk dengan nama ‘Allah’.
Mereka yang
dimuliakan ini, yang menghabiskan masa hidupnya dengan menjalankan institusi
Kenabian (Nubuwat) dan Kerasulan (Risalat) mendapatkan kesempurnaan
spiritual dan kebijaksanaannya (Kamalat)
lewat mana kualitas Nama Tuhan ‘Wali’
mewujud, dan mereka melanjutkan kehidupan mereka di akhirat setelah kematian dengan
mengalami keadaan spiritual Risalat,
yang terealisasi dalam stasion Walayat.
Walaupun
Yang Satu yang dinyatakan dengan nama ‘Allah’ tidak memiliki nama yang dikenal
sebagai kata ‘Nabi’, nama agung ‘Al-Wali’
bersifat Kekal (Baki)!
‘Nubuwwat’ adalah kualitas yang hanya
diperlukan di kehidupan dunia kini.
Sedangkan ‘Risalat’ merupakan kualitas yang berlaku
baik di kehidupan dunia maupun kehidupan setelah kematian.
Setiap
‘Nabi’, setiap ‘Rasul’ dan setiap ‘Wali’
berasal dari Hakikat atau Kebenaran (Haqiqat)
‘Walayat’.
Dilihat dari
realitas luarnya (Dzahir), setiap
‘Nabi’ adalah ‘Nabi’, dan dari sudut realitas dalamnya (Bathin), setiap ‘Nabi’ adalah ‘Wali’.
Dilihat dari
realitas luarnya, setiap ‘Rasul’ di masa lampau dapat dianggap sebagai ‘Nabi’,
atau mungkin saja bukan ‘Nabi’ sama sekali. Namun dalam realitasnya, dari sudut
pandang realitas luar, mereka adalah ‘Wali’.
Setiap ‘Wali’ menerima keberadaan dan kesempurnaan
spiritualnya dari ‘Walayat’nya.
Melaksanakan
misi agung ‘nubuwwat’ merupakan tugas yang terhubung dengan kehidupan dunia ini
dan berakhir dengan transisi ‘Nabi’ tersebut dari kehidupan dunia ini ke
kehidupan akhirat.
Dalam
kenyataannya, ‘Nubuwwat’ telah
berakhir dengan Muhammad Mustafa, yang merupakan Nabi Terakhir (Khataman-Nabi) dan karenanya tidak akan
ada lagi Nabi lain hingga Hari Kiamat.
Beberapa
‘Anbiya’ (bentuk jamak dari kata ‘Nabi’) pada saat yang bersamaan sebagai
‘Rasul’. Namun, tugas seorang ‘Rasul’ yang dirujuk oleh misi agung ‘Risalat’
sedemikian mulia sehingga akan tetap beroperasi hingga Hari Kiamat.
Pada
kenyataannya, menjadi seorang ‘Nabi’ hanyalah tugas sementara, sedangkan
‘Risalat’, yakni kualitas sebagai Rasul, adalah klasik dan tidak berakhir hanya
karena beralih dari dunia. Ini karena tidak ada kata akhir untuk mengetahui
kebenaran diri. Bagi Rasul, karenanya, tugas tersebut terus berlanjut hingga
kekekalan.
Untuk alasan
ini, dengan mengucapkan Kesaksian Keimanan (Kalima Syahadat), kita menegaskan
keyakinan kita bahwa Hazrat Muhammad SAW adalah ‘Rasul’, dan ini berlaku hingga
misi eternalnya. Hanya dengan menyatakan keimanan kita bahwa kita menerima dan
mengukuhkan sepenuhnya agama Islam. Oleh karena itu, setelah mengucapkan kata ‘AbduHu’, kita mengucapkan kata ‘Rasuluhu’, tapi kita tak pernah
mengatakan ‘NabiyyuHu’.
‘Risalat’ dan ‘Nubuwwat’ adalah tingkat tertinggi yang ada dalam ‘Walayat’. Ini serupa dengan kelas
‘Jenderal’ dalam kemiliteran.
‘Nubuwwat’ adalah tugas yang berhubungan
dengan memberitahu anggota masyarakatnya mengenai syarat-syarat yang
memungkinkan mereka mencapai kebahagiaan kekal di kehidupan akhirat, mengajak
mereka untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip itu.
Sementara ‘Risalat’ bertujuan untuk memberitahu
anggota masyarakatnya mengenai realitas mereka semdiri dan memberikan bimbingan
pada jalan ini dengan mengkomunikasikan kepada mereka praktek-praktek penting
yang harus dilakukan sehingga mereka dapat memasukkan prinsip-prinsip ini ke
dalam kehidupan mereka.
‘Ulul azmi’ merupakan sebutan yang
diberikan kepada mereka yang menjalankan kedua tugas ‘Risalat’ dan ‘Nubuwwat’
karena mereka memiliki ketetapan hati yang teguh.
Istilah ‘Walayat’ adalah mengetahui dan mengalami
Kebenaran diri sendiri (Haqiqat).
Al-Qur’an
menggunakan kata ‘Nabi’ jika merujuk kepada fungsi yang berhubungan dengan
norma-norma sosial dan aturan-aturan dalam masyarakat, dan ini merupakan
fungsi-fungsi dalam konteks ‘Nubuwwat’.
Namun kata ‘Rasul’ telah digunakan dalam konteks
yang berbeda total di dalam Al-Qur’an, sedemikian rupa sehingga ketika
fungsi-fungsi yang berhubungan dengan bentuk-bentuk dalam suatu masyarakat yang
dirujuk, yang berkenaan dengan fungsi-fungsi seperti memberitahu orang-orang
mengenai kebenaran asal-usul mereka juga mengenai relitas Allah dan
memperingatkan mereka tentang konsep tertentu yang salah difahami di dalam
masyarakat. Ini semua ada dalam konteks ‘Risalat’.
Ketika kata
‘Wali’ disebutkan di dalam al-Qur’an,
kata ini digunakan untuk menarik perhatian ke arah kesempurnaan spiritual yang
pada akhirnya harus dicapai individu berkenaan dengan cara menjalani
kehidupannya.
Mereka yang
telah mencapai tingkat kesempurnaan spiritual memiliki realitas ‘Walayat’ di dalam dirinya, yang
menunjukkan bahwa mereka telah mencapai status yang dinamai Nubuwwat atau Risalat, karena fungsi-fungsi mereka ke arah dunia luar. Dengan
cara ini, mereka telah diperlakukan sebagai kelas yang berbeda, karena mereka
terpisah dari ‘Awliya’ (jamak dari
kata Wali) yang telah mengalami
kebijaksanaan penuh kebahagiaan menuju pencapaian kesempurnaan batin mereka.
Jika kita
bisa membaca ayat-ayat Al-Qur’an di bawah cahaya definisi-definisi ini, kita
akan dapat melihat ke dimensi-dimensi yang lebih dalam mengenai realitas.
Sementara
itu, melihat dari sudut pandang lain, orang-orang suci yang telah menyerukan
Hukum Islam disebut ‘Nabi’, sementara mereka yang telah mengajak orang-orang
tanpa memperkenalkan Hukum Islam sehingga mereka dapat mengambil tindakan yang
diperlukan dan merealisasikan realitas mereka sendiri disebut ‘Rasul’. Di sisi
lain, mereka yang tidak menerima pesan agung ini untuk menjalankan tugas
demikian disebut ‘Wali’.
‘Walayat’ tidak dapat dianggap sebagai
otoritas yang dijalankan oleh sesuatu kekuasaan yang berdaulat karena tidak
diwariskan dari ayah kepada anak. Namun sebagai hasil pengalaman pribadi
mengenai Keberadaan absolut Tunggal yang bernama ‘Allah’ dan realisasi yang
dihasilkan kebangkitan batin di dalam kebenaran diri seseorang.
Kebenaran
yang mengarah kepada kesempurnaan spiritual dari kewalian mewujud pada seorang
‘Nabi’ atau ‘Rasul’ melalui aturan-aturan turunnya wahyu (Tanazzulat). Hal ini juga dirujuk sebagai menerima Wahyu Tuhan (Wahiy). Jika kesempurnaan spiritual yang
mengarah kepada kewalian mewujud dalam seorang ‘Wali’ melalui aturan-aturan
yang berkenaan dengan Peningkatan Spiritual (Uruj), ini kemudian disebut sebagai inspirasi (Ilham).
Untuk semua
alasan ini, menggunakan istilah “utusan’ dalam suatu teks bukan hanya akan
menyembunyikan semua realitas yang disebutkan di atas, namun juga akan
menghalangi orang untuk memahami banyak rahasia lain, meskipun pada akhirnya
akan tercapai.
Melaksanakan
praktek ritual (ibadat) tak akan dapat difahami dengan menerjemahkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an
tak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun!
Al-Qur’an
diturunkan agar membuat orang menjadi faham, dan ia merupakan kitab yang harus
dipraktekan agar dampaknya dapat dirasakan. Setiap orang dapat menerapkan label
kepadanya dengan menjelaskan artinya sejauh batas pemahamannya, dengan
kata-katanya sendiri sambil menambahkan ‘Sejauh pemahaman saya dari Al-Qur’an’.
Siapa pun yang menjelaskannya berarti telah memberikan nama tertentu kepadanya.
Walaupun ‘Tuhan’
mungkin ‘Besar’, ‘Allah’ adalah yang maha besar dari semuanya (Akbar)!
Melalui
penemuan realitas inilah kita (bisa) berhasil mencapai kebebasan batin kita. Namun
demikian, hanya Allah yang tahu kebenaran dari masalah ini!
Komentar
Posting Komentar
Silakan tuliskan komentar Anda