MAKNA YANG TERSIRAT
DALAM NAMA ALLAH
Sumber: KNOW YOURSELF Karya:
AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Seperti
telah diketahui, B-ismi-llah’ adalah frase yang secara harfiah berarti ‘Dengan
Nama (Ism) Allah’. Dan ini menunjukkan bahwa kata ‘Allah’ menunjuk kepada
sebuah Nama istimewa yang disandangkan kepada Keberadaan Tertinggi. Dalam hal
Nama-nama Tuhan, masing-masing Nama Tuhan menyatakan atribut khusus yang
terkait dengan Nama itu sendiri. Kami telah memperkenalkan topik ini dan
membahas masalah ini dari perspektif yang sama sekali berbeda dengan menggunakan
frase ‘Satu Yang Maha Tinggi merujuk
kepada Allah’ dalam tulisan-tulisan kami sebelumnya.
Untuk
menjelaskan arti dari konsep ini, mari fokuskan perhatian kita pada rincian
nama ‘Allah’ dengan memandangnya dari sudut yang berbeda berdasarkan tulisan
asli bahasa Arab.
Telah sangat
dikenal bahwa menurut mereka yang tertarik dengan Sufisme bahwa ada empat
dimensi utama dari alam. Ada Alam Dzat (Alam Al-Dzat), Alam Sifat (Alam
Al-Sifat), Alam Nama (Alam Al-Asma) dan Alam Perbuatan (Alam Al-Af’al). Dengan
menyadari bahwa Kebenaran Tertinggi menembus alam-alam ini, seseorang dapat
dipastikan telah membebaskan dirinya dari semua kecurigaan, dan karenanya
mencapai pemahaman akhir melalui Peningkatan Spiritual (Uruj) dan sebagai
imbalannya ini akan membuatnya mengetahui Hakikat dirinya.
Setelah
pengantar singkat ini, kini saatnya kita mempokuskan diri pada kajian kita.
Kita ketahui
bahwa kata benda ‘Allah’ ditulis dengan huruf-huruf Arab dan dimulai dengan
huruf ‘Alif’, yang berdiri sendiri pada awalnya, dan pada saat yang bersamaan
bebas dari semua huruf yang mengikutinya. Disamping huruf ‘Alif’ ada dua huruf
lain, huruf ‘Lam’, yang keduanya saling menyambung. ‘Lam’ yang ke-dua diikuti
oleh huruf ‘H’, yang mirip sebuah lingkaran (Dalam kaligrafi gaya Qufi, bentuk
huruf ini seperti kotak). Ada juga ‘Alif’ lainnya yang tak nampak di antara
ke-dua huruf ‘Lam’ dan ‘H’. Meskipun tidak nampak, ketika diucapkan berfungsi
sebagai huruf hidup pendek yang memberikan bunyi huruf ‘A’.
Mari kita
lihat lebih dekat makna dari masing-masing huruf ini, sehingga kita dapat
memahami apa yang disimbolkan dan diwakilinya. Sungguh, penilaian ini
berdasarkan pada temuan spiritual (Kashf) dari mereka yang telah mencapai
realisasi diri mereka dan karenanya penilaian mereka tidak bersifat mandiri.
Namun begitu, agar Anda dapat melihat kajian yang lebih rinci, saya akan
berbagi dengan Anda informasi berikut dengan harapan akan bermanfaat bagi
pengetahuan kita.
Menurut
orang-orang ini, ‘Alif’ pertama berhubungan dengan tahap ke-Esaan Utama (Ahadiyyat)
yang menandai kualitas Yang Tunggal. Dengan kata lain, Dzat yang Esa yang
dinamai sebagai ‘Allah’. Dzat ini tak dapat dibatasi dengan cara apapun atau
difahami dengan visi apapun, sebab pada tingkatan Dzat ada kebebasan absolut,
yang menunjukkan bahwa Dzat sama sekali terlepas dari semua sifat (atribut).
Pada kenyataannya, ini adalah tahap KETIADAAN yang tidak dapat di definisikan
ataupun dibayangkan atau dipikirkan dengan cara apapun. Keadaan ini disimbolkan
dengan huruf ‘Alif’, yang pada intinya merupakan sebuah garis lurus ke bawah
yang bermula dari sebuah titik, dan secara absolut terlepas dari semua huruf
lainnya dalam menuliskan kata ‘Allah’.
Sekarang,
mari kita lihat arti dari ke-dua huruf ‘Lam’ yang saling terikat. ‘Lam’ pertama
merujuk kepada Alam Sifat. Ini berarti bahwa semua yang ada muncul di kehidupan
dan menjadi sadar sepenuhnya melalui kualitas dan sifat dari dimensi khusus
ini. Pada nyatanya, semua alam terbentuk dengan terbukanya Nama Tuhan sebagai
akibat dari dimensi spiritual yang menunjuk kepada tahap sifat. Ini sebabnya
mengapa ‘Lam’ pertama atau huruf ‘L’ ini ditulis di samping ‘Lam’ ke-dua atau
huruf ‘L’ dalam penulisan Arab dari kata ‘Allah’.
Mari kita
bicarakan tentang ‘Lam’ yang ke-dua. Seperti dapat kita lihat, huruf ‘L’ ini
terikat dengan ‘Lam’ pertama, yang sederhananya menunjukkan bahwa semua
keberadaan terbentuk dari kualitas melekat dalam stasiun spiritual Sifat Tuhan
dan merupakan bagian keberadaan tunggal sepenuhnya. Kualitas Ketuhanan yang
berada dalam tahap Nama-nama berasal dari stasiun Sifat Tuhan. Karena alasan
ini, ‘Lam’ ke-dua dapat dimisalkan sebagai pengulangan dari yang pertama,
muncul kedua kalinya seperti ditunjukkan dengan kata ganti penunjuk ini. Namun
kini, muncul dengan corak yang terpisah karena makna dan rincian yang
disampaikannya tidaklah sama. Karenanya, dapat dikatakan bahwa ‘Lam’ ke-dua
berasal dari yang pertama, jadi tidak sekedar dianggap sebagai pengulangan dari
‘Lam’ pertama, namun menunjuk kepada tahap unik dimana pewahyuan mewujud.
Karena itulah, ia diulang untuk kedua kalinya.
Sekarang
mari kita fokuskan kepada huruf ‘H’. Baik ditulis sebagai lingkaran yang
terikat ke ‘Lam’ ke-dua, yang ditulis demikian sejak dulu kala, ataupun dengan
bentuk kotak dalam kaligrafi Qufi di awal-awal masa KeIslaman, huruf ‘H’
memiliki arti sebagai berikut.
Huruf ‘H’
mewakili Alam Perbuatan yang menampakkan semua Kualitas Ketuhanan, yang tak memiliki
awal ataupun akhir. Ia adalah transformasi sinambung yang muncul dari Alam
Sifat dan Nama-nama. Dengan kata lain, huruf ini mewakili alam-di-dalam-alam
yang tak terhitung dan segala sesuatu yang telah terindera!
Dalam
kaligrafi Qufi, huruf ‘H’ memiliki dua bentuk. Ia memiliki dua mata atau dua
titik di atasnya. Ini menunjukkan bahwa Alam Perbuatan dapat dilihat dari dua perspektif,
apakah itu sebagai dunia yang nampak ataupun dunia yang tak nampak, bergantung
pada tingkat kemampuan pengamatnya dan cara bagaimana melihatnya.
Huruh ‘H’
terikat dengan ‘Lam’ ke-dua, karena Alam Perbuatan tidak terlepas dari Alam
Nama dan Alam Sifat. Lebih dari itu, Alam Perbuatan ada dengan kualitas yang
muncul dari dimensi Sifat dan Nama darimana ia berasal.
Sementara
itu, ada ‘Alif’ yang tersembunyi di antara ‘Lam’ ke-dua dan huruf ‘H’.
Keberadaannya terucapkan setiap saat kata ini dibaca. Ini menunjukkan bahwa
Alam Perbuatan ada karena Kehendak Dzat Tuhan, yang berada dalam pengetahuan
(Ilm) Allah Yang Maha Kuasa dan ini berkelanjutan tanpa interupsi sebagai
bagian keberadaan dalam kesatuan total melalui Nama-nama dan SifatNya.
Tidak
diragukan bahwa orang-orang yang telah mencapai kebenaran ini pasti akan
memahami apa yang telah kami komunikasikan dari para guru spiritual secara
lebih menyeluruh. Mereka bukan hanya dapat mengevaluasi dengan cara yang lebih
baik makna dari nama ‘Allah’ ini, melainkan juga akan mengetahui mengapa nama
ini telah dipilih sebagai nama yang paling cocok.
Saya
berharap bahwa informasi ini, yang telah didapat oleh banyak orang melalui
temuan spiritual pribadinya akan membantu kita untuk memahami kedalaman nama ‘Allah’
dengan cara yang lebih baik, sehingga kita dapat menggunakannya di dunia ini
dengan cara yang tepat ke depannya.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tuliskan komentar Anda