Langsung ke konten utama

Paulus menghapus ajaran Yesus



Dimana Posisi “Kristus” di dalam
“Agama Kristen?”
Alih bahasa dari: Where is the “Christ” in “Christianity?”
Oleh: Dr. Lawrence Brown, M.D.


Para sarjana agama telah lama mempertalikan keyakinan Kristen lebih pada ajaran Paulus bukannya pada ajaran Yesus. Namun sebelum melompat kepada bahasan itu, sebagaimana keinginan besar saya, saya pikir sebaiknya mendasarinya terlebih dahulu dengan tinjauan spekulatif secara singkat terhadap Perjanjian Lama.
Perjanjian Lama mengajarkan bahwa Yakub bergumul dengan Tuhan. Faktanya, Perjanjian Lama mencatat bahwa Yakub tidak hanya bergumul dengan Tuhan, melainkan juga memenangkannya (Kejadian 32:24-30). Sekarang, bayangkan, kita sedang membicarakan tentang segumpal kecil protoplasma bergulat dengan Sang Pencipta jagat-raya-yang-berdiameter 240.000.000.000.000.000.000.000 mil, yang berisi lebih dari satu milyar galaksi – termasuk galaksi kita Bima Sakti – dan menang? Tapi maaf, seseorang telah menulis dua halaman naskah kuno untuk menjelaskan kalimat di atas. Namun pada intinya, kalimat ini membuat kita kebingungan. Karenanya kita mesti mempertanyakan konsep Tuhan menurut umat Yahudi, atau menerima penjelasan mereka bahwa “Tuhan” tidak berarti “Tuhan” dalam ayat di atas, melainkan adalah malaikat atau manusia (yang artinya bahwa Perjanjian Lama tidak dapat dipercaya). Pada faktanya, kesulitan tekstual ini sedemikian bermasalah sehingga Injil-injil yang lebih baru berusaha menutupinya dengan merubah terjemahan dari “Tuhan” menjadi “manusia.” Namun naskah sumber darimana Injil Yahudi diterjemahkan tidak dapat mereka ubah, dan tetap terbaca sebagai “Tuhan.”
Perjanjian Lama menjadi tidak dapat dipercaya karena masalah seperti ini terus berulang. Contoh yang paling menonjol adalah ketidakpastian yang membingungkan antara oknum Tuhan dan Iblis! II Samuel 24:1 tertulis, “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.’" Namun I Tawarikh 21:1 menyatakan, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.”
Ahhh, yang mana yang benar? Tuhan, ataukah Iblis? Kedua ayat menerangkan peristiwa sejarah yang sama, namun yang satu membicarakan tentang Tuhan sedang yang lainnya tentang Iblis. Ada perbedaan kecil (yang total, nampaknya).
Umat Kristen meyakini bahwa Perjanjian Baru terbebas dari masalah seperti ini, namun sayang mereka tertipu. Nyatanya, begitu banyak kontradiksi di dalamnya sehingga penulis menyusun sebuah buku untuk masalah ini. Sebagai contoh, Matius 2:14 dan Lukas 2:39 berbeda dalam hal apakah keluarga Yesus mengungsi ke Mesir ataukah ke Nazaret. Matius 6:9-13 dan Lukas 11:2-4 berbeda dalam hal pengucapan “Do’a Yesus.” Matius 11:13-14, 17:11-13, dan Yohanes 1:21 berbeda dalam hal apakah Yohanes pembaptis itu Elia atau bukan.
Permasalahan menjadi semakin buruk ketika kita memasuki arena penyaliban: Siapa yang memikul tiang salib – Simon (Lukas 23-26, Matius 27:32, Markus 15:21) ataukah Yesus (Yohanes 19:17)? Apakah Yesus mengenakan jubah merah tua (Matius 27:28) ataukah jubah ungu (Yohanes 19:2)? Apakah tentara Roma memasukkan empedu (Matius 27:34) ataukah kemenyan (Markus 15:23) kedalam anggurnya? Apakah Yesus disalib sebelum jam ke-tiga (Markus 15:25) ataukah setelah jam ke-enam (Yohanes 19:14-15)? Apakah Yesus naik pada hari pertama (Lukas 23:43) atau tidak (Yohanes 20:17)? Apakah kata terakhir Yesus adalah “Ya Bapak, kedalam tanganMu kuserahkan nyawaku” (Lukas 23:46), ataukah “Sudah selesai” (Yohanes 19:30)?
Itu hanya sebagian kecil dari daftar panjang ketidakkonsistenan kitab suci ini, dan mereka menggarisbawahi kesukaran untuk mempercayai Perjanjian Baru sebagai kitab suci. Namun demikan, ada juga yang sungguh-sungguh meyakini penyelamatan mereka berdasar Perjanjian Baru. Umat Kristen seperti inilah yang harus menjawab pertanyaan, “Dimana posisi ‘Kristus’ dalam ‘Agama Kristen?’” Ini adalah pertanyaan yang sangat adil. Di satu sisi kita menemukan agama yang dinamai atas Yesus Kristus, tapi disisi lain keyakinan Kristen ortodoks, yakni Kristen Trinitarian, sama sekali bertentangan dengan setiap ajarannya.
Saya tahu, saya tahu – Anda-anda yang tidak meneriakkan kata “Bid’ah!” sedang mengumpulkan kayu bakar dan menanam batang pohon. Namun tunggu. Letakkanlah senapan berkekuatan-tinggi itu dan dengarlah. Agama Kristen Trinitarian mengklaim bahwa mereka mendasarkan doktrinnya  pada kombinasi ajaran Yesus dan Paulus. Yang menjadi masalah, menurut mereka kedua ajaran ini saling melengkapi, padahal menurut kenyataan keduanya saling bertentangan.
Beberapa contohnya misalnya: Yesus mengajarkan Hukum Perjanjian Lama, sedangkan Paulus meniadakannya. Yesus mengajarkan keyakinan Yahudi ortodoks, sementara Paulus mengajarkan misteri-misteri agama. Yesus mengajarkan sikap tanggung-jawab, sedangkan Paulus mengusulkan pembenaran berdasarkan keyakinan. Yesus mengakui dirinya sebagai seorang nabi etnik, sedangkan Paulus mendefrinisikannya sebagai nabi universal.*  Yesus mengajarkan penyembahan kepada Tuhan, sedangkan Paulus menempatkan Yesus sebagai perantara. Yesus mengajarkan keesaan Tuhan, sedangkan teologi Paulus membangun konsep Trinitas.
Untuk alasan-alasan inilah banyak sarjana beranggapan bahwa Paulus merupakan koruptor utama dari Kekristenan Apostolik dan ajaran-ajaran Yesus. Banyak sekte Kristen awal berpandangan seperti ini juga, termasuk sekte-sekte Kristen abad ke-dua yang dikenal sebagai “adopsionis” – “Secara khusus, mereka memandang Paulus sebagai salah satu pengarang yang paling menonjol dari Perjanjian Baru kita, sebagai pembuat-bid’ah bukannya seorang rasul.”1
Lehmann menambahkan,
Apa yang diproklamirkan Paulus sebagai ‘Kekristenan’ adalah bid’ah belaka yang tidak berdasarkan pada keyakinan Yahudi atau Essene, atau pada ajaran Rabbi Yesus. Tapi, seperti kata Schonfield, ‘Bid’ahnya Paulus menjadi dasar dari ortodoksi Kristen, dan gereja resmi tidak memungkirinya sebagai bid’ah.’ . . . Paulus melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rabbi Yesus, malah Yesus menolaknya. Ia mengembangkan janji penyelamatan Tuhan bagi non Israel; ia menggugurkan hukum Musa, dan ia mencegah hubungan langsung dengan Tuhan dengan mengajukan perantara.2
Bart D. Ehrman, mungkin  seorang sarjana yang paling banyak menulis tentang kritik tekstual, berkomentar,
Pandangan Paulus tidak diterima secara universal, bahkan boleh dikata tidak diterima secara luas . . . Bahkan lebih mengejutkan lagi, surat pribadi Paulus menunjukkan bahwa ada para pemimpin Kristen yang aktif dan tulus secara terang-terangan sangat tidak setuju dengannya tentang masalah ini, dan menganggap pandangan Paulus sebagai tindakan korupsi terhadap pesan sejati Kristus. . . Orang harus selalu ingat bahwa dalam surat itu juga, Galatia, Paulus menunjukkan bahwa ia berkonfrontasi dengan Peter mengenai issu demikian (Gal. 2:11-14). Nyata-nyata ia tidak setuju, bahkan dengan murid terdekat Yesus tentang masalah tersebut.3
Mengomentari pandangan-pandangan dari beberapa umat Kristen awal dalam literatur Pseudo-Clementine, Ehrman menulis,
Paulus telah mengorupsi keyakinan sejati berdasar visi singkat, yang tak diragukan telah ia salahartikan. Paulus jelas-jelas musuh dari para rasul, bukan pemimpin mereka. Ia berada diluar keimanan sejati, seorang pebid’ah yang mesti dilarang, bukannya seorang rasul yang harus diikuti.4
Yang lainnya malah mengangkat Paulus ketingkatan orang-suci. Joel Carmichael jelas bukan salah seorang dari mereka:
Kami sangat sangat jauh dari Yesus. Sementara Yesus datang “hanya untuk melengkapi” Hukum dan Kenabian; Sementara dia memikirkan bahwa “ tidak sebuah iota, tidak sebuah titik” pun akan “melampaui Hukum (Taurat),”  bahwa perintah utamanya adalah “Dengarlah, O Israel, Tuhan kita adalah Tuhan yang Esa,” dan bahwa “tak satu pun yang baik kecuali Tuhan” . . . Apa pendapat kita dengan karya Paulus! Kemenangan Paulus berarti penghapusan final terhadap Yesus yang historik; ia mendatangi kita dengan jubah Kekristenan bagai seekor lalat dalam ambar.5
Dr. Johannes Weiss menambahkan,
Karenanya, keimanan kepada Kristus yang dipegang oleh gereja primitif dan Paulus merupakan hal baru jika dibanding dengan ajaran Yesus; ini adalah semacam agama baru.6
Semacam agama baru, memang. Inilah sebabnya timbul pertanyaan, “Dimana posisi ‘Kristus’ dalam ‘Kekristenan?’” Jika agama Kristen merupakan agama Yesus Kristus, dikemanakan hukum-hukum Perjanjian Lama serta keyakinan monoteisme ketat dari Judaisme ortodoksnya Yesus Kristus? Mengapa agama Kristen mengajarkan bahwa Yesus adalah anak Tuhan sedangkan Yesus menyebut dirinya sendiri “anak Manusia” sebanyak delapanpuluh-delapan kali, dan tak pernah sekalipun menyebut dirinya “anak Tuhan?” Mengapa agama Kristen mengesahkan pengakuan dosa kepada para pendeta dan berdo’a kepada orang-orang suci, Bunda Maria dan Yesus sedangkan Yesus mengajarkan kepada pengikutnya, “Dengan cara ini, karenanya, berdo’alah: ‘Bapa Kami . . .’” (Matius 6:9)? Dan siapa yang memilih seorang paus? Tentunya bukan Yesus. Benar, ia mungkin telah menyebut Petrus sebagai batu yang dengannya ia membangun gerejanya (Matius 16:18-19). Namun lima ayat berikutnya, ia menyebut Petrus sebagai “Setan” dan “seorang pelanggar.” Dan jangan lupa pula bahwa “batu” ini menyangkal Yesus tiga kali setelah Yesus ditangkap – sebuah saksi buruk tentang komitmen Petrus terhadap gereja baru.
Mungkinkah bahwa umat Kristen telah menolak Yesus sejak itu? Mengubah monoteisme ketat Yesus menjadi teologi Paulus, Trinitas; mengganti konsep pertanggungan dosa pribadi yang diajarkan Yesus dengan penebusan dosa oleh Yesus untuk semua manusia; membuang klaim Yesus bahwa dirinya adalah manusia lalu mengambil konsep Paulus bahwa dia itu Tuhan. Kita masih harus mempertanyakan bagaimana tepatnya agama Kristen menghormati ajaran nabinya.

Hak Cipta © 2007 Laurence B. Brown
Diijinkan untuk mereproduksi secara bebas tanpa batas jika dilakukan tanpa penghapusan, penambahan atau perubahan
Lulusan Cornell University, Brown University Medical School dan George Washington University program perawatan Rumah Sakit, Lawrence B. Brown adalah seorang ahli bedah oftalmologi, pensiunan Angkatan Udara, dan direktur kesehatan serta dokter kepala ahli oftalmologi dari pusat perawatan mata utama. Beliau juga sebagai duta antar-agama dengan gelar doktor bidang ketuhanan dan PhD bidang agama, juga sebagai pengarang dari sejumlah buku mengenai perbandingan agama serta fiksi yang berdasarkan-fakta. Karya tulisnya dapat Anda temukan di situs webnya,  www.LevelTruth.com.

* Yesus Kristus adalah nabi lain dalam rangkaian para-nabi yang diutus kepada kaum Israel yang sesat. Seperti yang dijelaskannya, “Aku tidak dikirim kecuali kepada domba-domba yang sesat dari rumah Israel.” (Matius 15:24) Ketika Yesus mengirim para muridnya demi jalan Tuhan, ia memerintahkan mereka, “Jangan pergi ke arah orang bukan Israel, dan jangan memasuki kotanya kaum Samara. Melainkan pergilah ke domba-domba yang sesat dari rumah Israel.” (Matius 10:5-6) Disepanjang kenabiannya, Yesus tak pernah tercatat mengubah keyakinan orang yang bukan Israel, dan bahkan memarahi seorang yang bukan Israel yang meminta pertolongannya, menyerupakan dia sebagai seekor anjing (Matius 15:22-28 dan Markus 7:25-30). Secara pribadi, Yesus adalah seorang Yahudi, murid-muridnya juga orang Yahudi, dia dan para muridnya menjalankan tugasnya juga untuk para Yahudi. Kini mungkin ada yang merasa heran dengan semua ini, karena orang-orang yang yang telah mengambil Yesus sebagai ‘juru selamatnya’ kebanyakan bukan orang Israel, dan bukan bagian dari “domba-domba sesat dari rumah Israel” yang menjadi target misinya.
[1] Ehrman, Bart D. The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings. 2004. Oxford University Press. P. 3.
2 Lehmann, Johannes. 1972. The Jesus Report. Translated by Michael Heron. London: Souvenir Press. pp. 128, 134.
3 Ehrman, Bart D. 2003. Lost Christianities. Oxford University Press. Pp. 97-98.
4 Ehrman, Bart D. 2003. Lost Christianities. Oxford University Press. P. 184.
5 Carmichael, Joel, M.A. 1962. The Death of Jesus. New York: The Macmillan Company. p. 270.
6 Weiss, Johannes. 1909. Paul and Jesus. (Translated by Rev. H. J. Chaytor). London and New York: Harper and Brothers. p. 130.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk Bumi Dalam Qur'an

Bentuk Bumi Bulat (Arti Kata KAWARA dan DAHAHA) Dahulu kala, orang percaya bahwa bumi datar. Berabad-abad, manusia takut untuk bepergian terlalu jauh, jika melanggar maka akan terjatuh di pinggiran bumi. Sir Francis Drake adalah orang pertama yang membuktikan bahwa bumi bulat setelah berlayar mengitarinya di tahun 1597. Perhatikan ayat Quran tentang perubahan siang dan malam. "Tidakkah engkau melihat bahwa Allah memasukkan malam kedalam siang dan memasukkan siang kepada malam?"[Al-Qur'an 31:29] Kata 'memasukkan' disini mengandung pengertian bahwa malam secara perlahan berubah kedalam siang, demikian pula sebaliknya.Fenomena ini hanya bisa terjadi jika bumi berbentuk bulat. Jika bumi datar, maka perubahan antara siang dan malam akan seketika, tidak perlahan-lahan.      Ayat berikut juga menyinggung bahwa bentuk bumi bulat. "Dia ciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia menggulungkan malam pada siang, dan menggulungkan siang atas malam ."[Al-Qur'...

Gunung Sebagai Pasak

Ayat Al-Quran Tentang Gunung: Sumber: www.islam-guide.com Alih Bahasa: T.J. Sagwiangsa Sebuah buku yang berjudul Earth  merupakan textbook rujukan mendasar di banyak universitas di seluruh dunia.  Salah seorang pengarangnya adalah Professor Emeritus Frank Press.  Dia merupakan Penasehat Sains bagi Presiden Amerika Serikat terdahulu Jimmy Carter, dan menjabat selama 12 tahun sebagai Direktur di National Academy of Sciences, Washington, DC. Bukunya menyatakan bahwa gunung-gunung memiliki akar di bawahnya. 1   Akar-akar ini tertancap dalam di dalam tanah, karenanya, gunung-gunung memliki bentuk seperti sebuah pasak  (lihat Gambar 7, 8, dan 9).   Gambar 7:  Gunung-gunung memiliki akar yang dalam di bawah permukaan tanah. ( Earth , Press dan Siever, hal. 413.) Gambar 8:  Penampang skematik.  Gunung-gunung, seperti halnya pasak, memiliki akar yang...

Siapa Pengarang Perjanjian Baru?

Kitab Perjanjian Baru Alih bahasa dari: The New Testament Oleh: Dr. Lawrence Brown, M.D. www.TrueToJesus.com Keduanya membaca Al Kitab siang dan malam, Yang kaubaca hitam sedangkan bagiku putih -          Mark Twain, Letters from Earth, Vol. II Tentu saja, sikap sentimen Blake di atas bukan sesuatu yang baru. Kitab Perjanjian Baru mengandung banyak ketidakkonsistenan yang menelurkan beragam interpretasi, keyakinan, agama yang memusingkan, yang kesemuanya dinyatakan berlandaskan Al Kitab. Dan kita pun menemukan satu pengarang yang mengusulkan hasil pengamatan yang menghibur: Anda bisa dan tidak bisa, Anda harus dan tidak harus, Anda akan dan tidak akan, Dan Anda akan dikutuk jika Anda melakukannya, Dan Anda akan dikutuk jika Anda tidak melakukannya.[1] Mengapa banyak ragam sudut-pandang? Pertama, kelompok-kelompok teologi yang berbeda berselisih pendapat mengenai kitab yang mana yang harus dimasukkan kedalam Al-...